[Baru] Penyebab, Gejala, dan Cara Mengobati

Jakarta

Kasus preeklamsia pada ibu hamil atau bumil masih banyak ditemukan di Indonesia. Mengenali penyebab, gejala, dan cara mengobati preeklamsia sangat penting bagi Bunda yang berencana untuk punya momongan.

Menurut SRS Badan Litbangkes 2016, preeklamsia menjadi salah satu penyebab kematian ibu terbanyak di Indonesia. Secara global, preeklamsia juga masih menjadi ancaman yang bisa menyebabkan kematian ibu dan bayi.

“Sejauh ini, preeklamsia dan eklamsia masuk dalam tiga penyebab kematian tertinggi pada ibu hamil dan bersalin di Indonesia. Angka kejadiannya tercatat sekitar 3,8 sampai 8,5 persen, dan menjadi 24 persen penyebab kematian ibu secara keseluruhan di Indonesia,” kata Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan Sub Endokrinologi & Menopouse, Prof. Dr. dr. Andon Hestiantoro, Sp.OG-KFer, kepada HaiBunda, beberapa waktu lalu.

Apa itu preeklamsia?

Preeklamsia adalah kondisi di mana tekanan darah bumil meningkat sampai mencapai 140/90 mmHG. Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), preeklamsia biasanya berkembang setelah usia kehamilan 20 minggu atau seringkali terjadi di trimester ketiga.

Wanita yang pernah mengalami preeklamsia, terutama pada bayi lahir prematur, memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit ginjal, jantung, stroke, dan tekanan darah tinggi. Risiko untuk mengalami preeklamsia juga dapat terjadi lagi di kehamilan berikutnya, Bunda.

Andon mengatakan, preeklamsia dapat terjadi pada Bunda dengan kehamilan yang sehat. Perlu diketahui, Bunda dengan tekanan darah tinggi sebelum usia kehamilan 20 minggu, kemungkinan sudah mengalami hipertensi sebelum hamil.




Ilustrasi Preeklamsia/ Foto: Getty Images/iStockphoto/

Penyebab preeklamsia

Penyebab preeklamsia dapat diketahui sesuai dengan tipenya. Berikut 2 tipe preeklamsia sesuai dengan penyebabnya:

1. Early onset preeclampsia

Early onset preeclampsia atau preeklamsia awitan dini terjadi pada usia kehamilan antara 20 sampai 30 minggu. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi di sekitar usia kehamilan 30 minggu.

Penyebab early onset preeclampsia adalah kelainan imunologi atau kelainan sel-sel imun di rahim ibu yang tidak berfungsi dengan baik. Kelainan ini membuat rahim tidak bisa menerima adanya embrio seutuhnya, seolah-olah ditolak atau penerimaan itu hanya bersifat parsial (separuh).

“Akibat penerimaan yang parsial, embrio (trofoblas) akan mengalami kesulitan untuk mencapai pembuluh darah ibu. Sebaliknya, kalau penerimaan baik, pembuluh darah dan embrio akan melekat erat, sehingga oksigen dan nutrisi dari ibu dapat ditransfer dengan baik ke janin,” ujar Andon.

2. Late onset preeclampsia

Late onset preeclampsia adalah preeklamsia yang terjadi pada usia kehamilan 36 sampai 38 minggu. Kondisi ini dapat terjadi karena beberapa faktor, seperti:

  • Pengaruh lingkungan
  • Tidak bisa menjaga berat badan atau mengalami obesitas
  • Pengaruh pola makan
  • Diabetes melitus
  • Sindrom metabolik

Pada Late Onset Preeclampsia, kehamilan berjalan baik mulai dari trimester awal. Selain itu, implantasi juga bagus, Bunda.

Faktor risiko preeklamsia

Menurut ACOG, ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan bumil masuk kategori risiko tinggi dan sedang. Berikut yang masuk dalam risiko tinggi terkena preeklamsia, yakni:

  1. Pernah mengalami preeklamsia di kehamilan sebelumnya
  2. Kehamilan lebih dari satu janin
  3. Hipertensi kronis
  4. Kondisi autoimun, seperti lupus (systemic lupus erythematosus atau SLE)
  5. Penyakit ginjal

Berikut faktor risiko sedang preeklamsia saat hamil:

  1. Hamil untuk pertama kalinya
  2. Hamil dengan jarak 10 tahun dari sebelumnya
  3. Indeks Massa Tubuh (IMT) lebih dari 30
  4. Riwayat keluarga memiliki preeklamsia
  5. Berusia 35 tahun atau lebih
  6. Pernah mengalami komplikasi kehamilan sebelumnya, seperti melahirkan bayi dengan berat lahir rendah
  7. Menjalani program bayi tabung
  8. Ras kulit hitam
  9. Pendapatan rendah

Gejala preeklamsia

ACOG menjelaskan bahwa preeklamsia dapat berkembang tanpa disadari. Berikut beberapa gejala tanda-tanda preeklamsia yang Bunda perlu tahu:

  • Pembengkakan pada wajah atau tangan
  • Sakit kepala yang tak kunjung hilang
  • Melihat bintik-bintik atau perubahan pada penglihatan
  • Muncul rasa sakit di perut bagian atas atau bahu
  • Mual dan muntah pada trimester kedua kehamilan
  • Kenaikan berat badan secara tiba-tiba
  • Kesulitan bernapas

Bila Bunda mengalami salah satu gejala di atas, segera konsultasikan ke dokter ya. Perlu diketahui juga, seorang bumil dengan preeklamsia yang kondisinya memburuk akan mengembangkan gejala yang parah. Berikut gejala parah preeklamsia yang perlu diwaspadai:

  • Rendahnya jumlah trombosit dalam darah
  • Fungsi ginjal atau hati yang tidak normal
  • Nyeri pada perut bagian atas
  • Sakit kepala yang parah
  • Gangguan penglihatan
  • Ditemukannya cairan di paru-paru
  • Tekanan darah 160/100 mmHg atau lebih tinggi

Diagnosis preeklamsia

Hasil pemeriksaan tekanan darah yang tinggi mungkin merupakan tanda awal preeklampsia. Jika pembacaan tekanan darah tinggi, Bunda mungkin akan diperiksa lagi untuk memastikan hasilnya.

Bumil juga mungkin dapat menjalani tes urine untuk memeriksa protein dalam darah. Tes lain yang bisa dijalani adalah pemeriksaan untuk mengetahui apakah hati dan ginjal bekerja dengan baik, serta tes untuk mengukur jumlah trombosit dalam darah.




Ibu Hamil Sakit KepalaIlustrai Preeklamsia/ Foto: Getty Images/iStockphoto/geargodz

Pengobatan preeklamsia

Tujuan pengobatan preeklamsia adalah untuk mencegah komplikasi pada bumil dan bayinya. Penatalaksanaannya juga menyesuaikan dengan gejala yang dialami bumil.

Penanganan preeklamsia bila gejala tidak parah

Bumil yang mengalami preeklamsia tanpa gejala yang parah dapat dirawat di rumah sakit atau menjalani rawat jalan. Pengawasan ketat tetap dilakukan oleh dokter meski Bunda tidak mengalami gejala parah.

Selama rawat jalan, Bunda perlu mengecek gerakan janin dan mengukur tekanan darah secara mandiri. Bunda juga diharuskan kontrol ke dokter kandungan sekali atau dua kali dalam seminggu.

Persalinan pada kondisi preeklamsia perlu didiskusikan dengan dokter. Pengobatan mungkin dibutuhkan selama kehamilan bahkan saat persalinan.

Selain itu, jika hasil tes menunjukkan janin dalam kondisi tidak baik, maka Bunda mungkin perlu melahirkan lebih awal. Bumil dengan preeklampsia dapat melahirkan normal, tetapi bila ditemukan ada masalah selama persalinan, mungkin perlu dilakukan tindakan operasi caesar.

Penanganan preeklamsia dengan gejala parah

Bumil dengan preeklamsia gejala parah perlu dirawat di rumah sakit. Bila kehamilan kurang dari 34 minggu dan kondisi stabil, Bunda dapat menunggu waktu tepat melahirkan.

Menunda persalinan dapat membantu dalam beberapa kasus, seperti memudahkan pemberian kortikosteroid untuk membuat paru-paru janin menjadi lebih matang. Menunda persalinan juga dapat memberi Bunda waktu untuk mengonsumsi obat yang bisa menurunkan tekanan darah dan mencegah kejang.

Secara umum, penggunaan obat-obatan seperti aspirin dengan dosis rendah, mungkin akan diresepkan dokter untuk mengurangi risiko preeklamsia. Rutin konsultasi ke dokter adalah cara tepat untuk mencegah dan menangani preeklamsia selama kehamilan, Bunda.

Cegah preeklamsia dengan kontrol ke dokter

Bunda perlu rutin memeriksakan kandungan ke dokter selama hamil, terutama bila berisiko mengalami preeklamsia. Berikut jadwal atau waktu kunjungan ke dokter selama kehamilan:

  • Usia kehamilan sampai minggu ke-28: 1 bulan sekali
  • Minggu ke-28 sampai ke-36: 2 minggu sekali
  • Minggu ke-36 sampai ke-40: 1 minggu sekali

Bunda, yuk download aplikasi digital Allo Bank di sini. Dapatkan diskon 10 persen dan cashback 5 persen.

Simak juga 15 makanan yang bisa mencegah preeklamsia, dalam video berikut:

[Gambas:Video Haibunda]

(ank/rap)




Sumber: https://www.haibunda.com/kehamilan/20230126102956-49-295658/preeklamsia-pada-ibu-hamil-penyebab-gejala-dan-cara-mengobati